KepoQQ
WEDEQQ
IDOLAQQ
KOKIQQ
HOKI 365
JASAQQ
BOLA 168
DOMINO 168
TAHUNQQ
COBAQQ
ARENA99
Cerita Dewasa Nakal Bersambung

Liburan Berujung Ngentot Bergantian Pasangan Bagian 4

Liburan Berujung Ngentot Bergantian Pasangan Bagian 4 – Cerita Nakal sebelumnya yang telah diketahui atau kita baca bersama tentu saja yang berjudul Liburan Berujung Ngentot Bergantian Pasangan Bagian 3 , dan kali ini situs Cerita69.co akan melanjutkan cerita mesum yang mantap dengan cerita sebelumnya yang pastinya bisa membangkitkan birahi seseorang yang berjudul Liburan Berujung Ngentot Bergantian Pasangan Bagian 4,.. ya uda yuk kita langsung aja mulai aja cerita nya.. hehehe penasaran? yuk let’s go..

Meski dalam masa subur Aida tidak ingin memupus kenikmatan yang tengah dinikmati pria diatas tubuhnya itu. Dibiarkannya aliran sperma yang hangat memenuhi rongga rahimnya, apapun yang terjadi nanti biarlah terjadi. Namun yang pasti saat ini dirinya begitu menikmati kepuasan yang terpancar dari wajah seorang pria yang bukan suaminya, terus memburu rentetan kenikmatan orgasme dari tubuh telanjangnya. Ada kepuasan dibatin Aida melihat wajah dan tubuh Chandra yang bermandikan keringat tersenyum kelelahan, dipeluknya kepala Chandra dan menempatkan wajah yang dihias kumis tipis itu diantara payudaranya. Obrolan ringan mengalir dari mulut mereka tanpa ada niat memisahkan dua kemaluan yang masih bertaut berselimut kehangatan lendir-lendir cinta mereka.

“Dugaanku tidak meleset, ternyata kau memang luar biasa,” ucap Chandra sambil menyisir alis Aida dengan telunjuknya. Keringat dari pacuan birahi yang baru saja selesai masih terus keluar dari pori-porinya yang halus.
Tubuh Chandra memang lebih besar dari suaminya, dengan badan atletis yang selalu terjaga. Dan Aida merasa tenang berada dalam rengkuhan dan tindihan pria tersebut.
“Hahaha,,, sudahlah,, tak perlu merayuku lagi, kau sudah mendapatkan segalanya dariku, aku harus mengakui pesonamu begitu mengagumkan, dan aku yakin sudah banyak wanita yang telah berhasil kau gagahi dan sialnya salah satunya adalah aku,,,. Jadi sekarang, sebaiknya cepatlah kau kenakan pakaianmu dan berkumpul dengan teman-temanmu di meja makan,” kata-kata Aida yang begitu panjang tak mendapatkan respon dari Chandra yang kini mengukir bentuk bibir Aida dengan jemarinya.

“Ayolah Chandra,, kau tidak mungkin terus menindih tubuhku, lagipula aku tidak ingin suamiku mendapati kemaluanku melebar karena terus menelan batang besarmu ini,” dengus Aida dengan berpura-pura kesal
Chandra yang lebih banyak diam dan hanya menatap wajah dan tubuh telanjangnya membuatnya rikuh. Walau bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya mempersilahkan seorang pria, selain suaminya, dengan bebas menggasak selangkangannya. Bahkan suaminyapun tidak pernah melakukan itu, biasanya Munaf langsung tergeletak tertidur di sampingnya begitu berhasil menghamburkan sperma di rahimnya, dan kini ada seorang lelaki yang belum begitu dikenalnya, berlama-lama menindih tubuhnya tanpa melepaskan batang yang menghujam dan masih saja mengeras.

“Apakah kau benar-benar ingin aku turun dari tubuhmu?” Tanya Chandra sambil mengambil ancang-ancang menjatuhkan tubuhnya ke samping.
“Emhh,, Chandra, jangan membuatku terus merasa malu dong,” rajuk Aida sambil kembali memeluk tubuh Chandra dan menyembunyikan mukanya yang memerah ke dada bidang Chandra.
Kedua pahanya menjepit erat pinggul Chandra menegaskan bahwa dirinya tidak ingin batang besar itu lepas dari kemaluannya. Chandra hanya tersenyum melihat tingkah Aida, namun kedua sikunya yang terus menahan berat tubuhnya untuk menghindari beban di tubuh Aida sedikit membuatnya capek, akhirnya Chandra berguling kesamping dan menempatkan Aida di atas tubuhnya tanpa melepaskan penis yang masih mendekam manja. Wanita itu sempat terpekik, namun setelah mendapati posisi yang memberikan dominasi pada dirinya, Aida tersenyum. Dengan percaya diri yang dipaksakan Aida menduduki penis Chandra dan membiarkan lelaki itu memandangi tubuhnya yang terekspos bebas. Aida sangat ingin memperlihatkan semua kelebihan yang dimilikinya. Aida mengakui tubuhnya lebih berisi dibandingkan wanita lainnya, hampir menyaingi kemontokan tubuh Bu Sofia.

Jemari kanan Chandra terulur menjemput payudara besar yang menggantung, sementara tangan kirinya menyusuri pinggangnya yang ramping. “Ternyata kau benar-benar gemuk, untungnya lemak itu berada sesuai pada tempatnya,” desis Chandra saat meremasi kedua bokong Aida yang begitu montok dan membuat batangnya terbenam semakin dalam.
“Tapi itu justu membuatmu sial, karena kau harus melayaniku sekali lagi,”
“Oh ya,,, tampaknya upah yang kuberikan masih kurang, baiklah,,, kau boleh kembali mengambil upahmu,” balas Aida seraya mengarahkan payudaranya kebibir Chandra.
Tak perlu waktu lama, bibir indah itu kini kembali mendesis menikmati bibir Chandra yang bermain nakal, menjilat, menyedot bahkan mengigiti kedua putingnya. Tak dihiraukannya telunjuk Chandra yang kini mengusap-usap sekitar anusnya, namun ketika dirasakannya jari itu mencoba memasuki anusnya, Aida terkaget dan dengan cepat mencengkram tangan Chandra.

“Jangan sayang, itu jorok sekali,”
“Tapi aku ingin mengambil upahku di lubang kecil itu,” ucap Chandra dengan merengek manja.
“yang benar saja Chandra, milikmu tidak akan mungkin cukup masuk kesana,” tubuh Aida bergidik, vaginanya saja begitu sulit melahap batang besar itu, dan kini batang itu ingin menjajal anusnya yang begitu sempit.
“Jujur saja, istriku telah melayani dua orang pria dengan anusnya, dan itu sungguh nikmat, Ayolah,,,” Chandra bingung bagaimana lagi cara merayu, dirinya begitu terpesona dengan pantat montok itu, dan terus membayangkan bagaimana nikmatnya jika penis besarnya berhasil melesak masuk dan terjepit diantaranya.
“Istrimu? Aryanti? Telah melayani dua pria? Dengan anusnya?” kening Aida berkerut terkejut oleh pernyataan Chandra. “Ta,ta,tapi,,, aku tidak berani, itu pasti sakit sekali,” jawab Aida.
“Tuan, makan malam sudah siap, dan sepertinya tuan dan nyonya sudah ditunggu oleh teman-teman untuk makan bersama,” terdengar suara lembut Lik Marni, memutus perdebatan antara keduanya.
Chandra kembali memandang mata Aida penuh harap, sekaligus menyampaikan pesan bahwa waktu mereka tak banyak.

“Baiklah,,, kau menang Chandra, tapi lakukan dengan pelan,” Aida menyerah, melepas penis Chandra yang masih menancap kemudian mengambil posisi menunging sambil memeluk bantal.
Tampak penis Chandra begitu mengkilat, entah oleh spermanya tadi ataukah oleh cairan vagina Aida yang kembali basah. Sekali lagi Chandra meremasi pantat besar Aida, dengan posisi itu vagina dan anus Aida terpampang jelas, begitu pasrah bersiap menerima tusukan penis pertama yang sama sekali tidak pernah dilakukannya, terbayangkanpun tidak. Setelah mengambil posisi diantara kaki Aida yang tertekuk, Chandra mencoba menusuk-nusuk lubang yang telah basah oleh liurnya. Dan memang kepala penisnya terlalu besar untuk lubang imut itu. Berkali-kali helm besar itu meleset ke atas dan sesekali terpleset ke vagina Aida, membuat bibir wanita itu mendesis.

“Sepertinya memang tidak bisa, sayang, dan mungkin aku akan melakukannya lain kali,” ucap Chandra yang menyerah dan kemudian menusukkan batangnya ke kemaluan Aida.
Aida menggeram tertahan, mendapati selangkanganya ditusuk dengan tiba-tiba. “yaaa,yaa, teruusss,, kurasaaa iniii lebih baiiieek,” rintih Aida mengimbangi sodokan-sodokan keras dari Chandra.
Dengan erat kedua lengan kekar itu memegangi pinggul Aida, untuk memantapkan serangannya, kamar gelap yang tadi senyap kini kembali riuh oleh gemuruh birahi. Masing-masing ingin menunjukkan kelihaian dalam memuaskan lawan mainnya. Aida berusaha mengejang untuk mempererat cengkraman otot vaginanya, dan itu cukup membuahkan hasil, Chandra berkali-kali mendengus garang ketika penisnya tertahan cukup lama didalam lubang sempit itu, menikmati gerakan otot kelamin Aida yang mengempot. Aida tersenyum puas oleh usahanya.

Namun ketika Chandra tiba-tiba menghentak keras jauh kedalam kemaluannya pekiknya terlontar. Dinding rahimnya tak pernah mampu membungkam hentakan nikmat batang yang terus menggedor ganas. Ranjang kayu dengan per busa yang tak lagi kencang terus menghantam tembok kamar. Membuat suara semakin gaduh. Aida mengangkat paha kanannya, memperlebar akses bagi batang itu untuk bergerak lebih bebas.
“Adduuuuhhh,,, duhh,,Gaa,,,Chandraaa,,, masukiiin semuaaa,,, biar kutelaaann smuaaa,,,” jeritan birahi Aida begitu nyaring membuat Lik Marni yang ada didapur geleng-geleng kepala, meski telah terbiasa dengan ulah tamu-tamunya, tapi tak ada yang seganas mereka berdua.

Tubuh Aida tak mampu menahan hentakan pinggul Chandra yang menggila, membuat pipi mulusnya menempel kedinding, kedua tangannya mencoba menahan di tembok kamar. Meski demikian pinggulnya masih memberikan perlawanan, bergoyang mengikuti hentakan yang membabi buta.
“Aarrrgghhh,,, Gaaa,,, keluaaarrr,,, Aiieedaaa sampaaaii Gaa,,”
“Aaahhm,, aahh,,, yang dalaaaamm,, daalaaam,,”
Aida tak lagi peduli dengan jeritannya yang memekik nyaring. Orgasmenya begitu dahsyat saat Chandra memaksakan penis yang terlalu panjang itu berhasil masuk sepenuhnya ke dalam lorong kemaluannya. Tangan Chandra berusaha menahan pinggul Aida yang berkelojotan, dengan punggung melengkung naik turun seiring orgasme yang perlahan mulai menyurut. Sudut matanya melirik Chandra yang berusaha mengatur nafasnya dengan senyum tersungging. Keegoan Chandra sebagai seorang lelaki melonjak saat melihat orgasme gila yang dialami Aida.

Bertambah satu lagi wanita yang mengakui kehebatan barang pusaka miliknya. Terdampar di pantai orgasme, melenguh bersahutan bagai ombak yang datang silih berganti. Kini, lagi-lagi Chandra memeluk tubuh montok yang tertelungkup kehabisan tenaga.
“Ga,,lakukanlah semua yang kau inginkan pada tubuhku, tapi beri aku waktu beberapa menit,” kata Aida tersengal-sengal.
Wajah cantik berkacamata yang kini bermandikan keringat memberikan pemandangan yang begitu indah.
“Mungkin aku akan membobol anusmu lain kali, dan hingga sampai waktunya tak ada seorangpun yang boleh menjamah lubang itu, dan sekrang berbaliklah,” bisik Chandra dengan lidah menjilati kuping Aida.

Aida bingung dengan apa yang akan dilakukan Chandra pada dirinya. Dengan penuh nafsu Chandra mengangkangi payudara Aida yang terbaring pasrah. Kini tampak dengan jelas di depan mata Aida bagaimana bentuk dari batang yang telah memberikannya orgasme yang begitu dahsyat. Tepat di depan hidungnya, Chandra mengocok batang raksasa yang menampakkan urat-urat yang mengelilingi, membuat daging besar itu semakin sangar. Entah dorongan dari mana Aida membuka bibirnya menawarkan batang itu untuk bertandang ke dalam mulutnya. Padahal Aida selalu menolak melakukan itu saat suaminya meminta dan memohon. Rezeki tak boleh ditolak, dengan cepat batang itu memenuhi rongga mulutnya, terkadang lidah Aida menyedot batang itu dengan kuat berharap batang itu menghilangkan dahaganya dengan sperma cinta. Sekelebat Aida teringat kesehariannya yang bekerja sebagai seorang guru, seorang guru cantik yang menjadi idola di sekolah.

Namun kini terbaring pasrah dengan mulut penuh dijejali penis seorang pria yang bukan suaminya. Namun dalam setiap geraknya Aida justru ingin memastikan bahwa semua yang dilakukannya itu benar-benar nyata, bukan sekedar mimpi. Dengan jemarinya sesekali Aida menarik penis itu keluar dan memainkan di wajahnya yang mulus, menyusuri hidung dan telinganya. Sementara lidahnya menjilati kantung testis yang meggantung. Aida sangat sadar dengan apa yang dilakukannya, hatinya ingin mendobrak kungkungan moral dan hukum yang selama ini membelenggu. Berbagai kejadian yang dialaminya selama mengajar disekolah silih berganti hadir dipelupuknya, bagaimana mata para siswa cowok memandangi belahan roknya dengan sangat liar, terkadang Aida merasa risih ketika beberapa muridnya sengaja menundukkan badan untuk mengambil barang yang sengaja mereka jatuhkan.

Aida harus mengakui sesekali murid-muridnya kadang sedikit beruntung saat dirinya terlupa menurunkan dan menjepit roknya yang selutut ketika duduk dibangku guru. Itu terlihat jelas dari mata mereka berbinar ketika berhasil mendapatkan pemandangan yang indah. Atau ulah penjaga sekolah yang mengiringinya setiap kali dirinya ke kamar kecil yang sebenarnya dikhususkan bagi para guru. Akibat ulah penjaga sekolah yang nakal tersebut Aida berusaha ekstra hati-hati dengan memastikan tidak ada celah lubang untuk mengintip. Bahkan tidak sekali dua kali, Pak Darno mengedipkan mata dan dengan sedikit isyarat yang dipahaminya sebagai permohonan untuk sedikit mengintip dua bukit yang tersembunyi di balik seragam PNSnya. Meski tidak mengabulkan permohonan itu, Aida tidak dapat memungkiri ada gairah yang menggelegak dalam dadanya.

Ada rasa bangga ketika setiap bagian tubuhnya dikagumi oleh para lelaki. Hanya saja kenyataan dirinya sebagai gadis kampung yang diboyong kekota dan berprofesi sebagai guru lah yang menjadi rambu-rambu akan semua tingkah lakunya. Tetapi kini, dirinya terbaring pasrah di bawah tindihan seorang lelaki, merelakan setiap lubang di tubuhnya dijejali oleh batang berotot, gerakannya begitu pasrah mengikuti semua kehendak pejantan yang mengayuh tubuhnya, gairahnya menderu mengejar kenikmatan dan kepuasan yang dijanjikan oleh Chandra, teman suaminya.

Dengus nafasnya kadang tertahan, ketika tubuh Chandra yang berat menduduki kedua payudaranya, menjepitnya dengan keras, tapi entah mengapa tubuhnya justru semakin pasrah, menikmati bibir Chandra yang mendesah dan merintih semakin keras di atas tubuhnya. Hatinya sangat ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang wanita jalang yang sanggup memuaskan para lelaki.
“Keluarkanlah semua saaayaaaang,,,” teriak Aida sambil membuka lebar mulutnya, seakan memberi tanda bibir indah itu siap menampung setiap tetes sperma Chandra yang mengalir keluar.
“Aaaarrgghhhh,,,, iseeeppp yang kuat,iseeppp, semuaaaa,,,” teriak Chandra ketika tak mampu lagi bertahan atas pelayanan yang begitu sempurna dari seorang guru yang cantik. Jemari Chandra menjambak rambut Aida dengan kasar, memastikan penisnya tidak akan terlepas dari mulut Aida.

“Emmgghhhh,,mgghhh,,,” Aida menggeram berusaha memenuhi hajat pejantan yang melenguh melepas orgasme dirongga mulutnya, lidahnya berusaha menyedot batang yang berkedut kencang menghantar cairan kental ke mulutnya. Berkali-kali Aida meneguk untuk mengosongkan mulutnya yang telah penuh. Wajahnya begitu pasrah ketika batang berlendir ditarik keluar dan menghambur tetes terakhirnya di kacamata dan wajahnya. Aroma yang khas membuat mulutnya terbuka lebar berharap batang besar itu kembali masuk untuk mendapatkan pelayanan dari lidahnya. Satu lagi pelayanan yang begitu dahsyat dirasakan oleh Chandra, yang tak pernah didapatkannya dari Aryanti istrinya. Ada rasa puas dan bangga ketika berhasil melukis wajah seorang guru yang cantik dengan aliran sperma. Dengan kekuatan yang tersisa Chandra menjatuhkan tubuhnya ke samping Aida, perlahan mengatur nafasnya. Wajahnya meringis ketika Aida menggoda dengan menggenggam kepala penisnya dengan kuat, membuat kemaluannya terasa ngilu.

“Cepatlah berbenah, nanti kita dicari yang lain,” bisik Chandra seraya mencari pakaiannya, jemarinya meraba-raba mencari kaosnya yang terlempar entah kemana.
“Kau duluan saja aku akan menyusul nanti, kau benar-benar luar biasa dan aku harus beristirahat sebentar,” jawab Aida yang justru mengambil selimut dan menutupi sebagian tubuh montoknya yang terbuka.
“Ok,, tapi jangan terlalu lama, aku takut suamimu cemas,” balas Chandra sambil meremas payudara Aida dari balik selimut, membuat siempu-nya tertawa. “Kalau kau ada waktu, mungkin aku bersedia untuk sekali lagi melayanimu malam ini,” jawab Aida sambil terkikik sebelum Chandra menghilang di balik pintu.
“Chandra,, aku pinjam istrimu sebentar ya,,,” ucap Gracepada Chandra yang tengah melahap sandwich yang baru saja diantar oleh Lik Marni.
“emang mau ngapain?”
“Adda aja, urusan kaum hawa, weee,,,”
“Aiiihhh,,, bisa juga istri Dako ini genit, mana pake melet lagi,,” gumam Chandra, matanya nanar menatap Graceyang berdiri didepan pintu dengan balutan kaos lengan panjang yang sedikit ketat, tak ketinggalan jilbab yang selalu membalut wajah cantiknya.

“Ok, Ashal wakthu balek dhi mharhi tethap utuh,,,” Chandra memaksakan menjawab meski mulutnya sedang penuh, matanya beralih ke sosok istrinya yang malam itu kelihatan lebih centil, tak ubahnya seperti anak ABG. Mematut diri didepan cermin memiringkan tubuh ke kanan dan kekiri, celana lagging hitam dan kaos longgar berbelahan rendah dengan tulisan ‘Awesome’ tepat dibagian payudara.
“Hahahahaa…bisa aja kamu, emang bagian mana yang bisa hilang dari istrimu,,” Gracetergelak tertawa.
“Tenang saja sayang,,, kalo ntar balik kesini nenen ku hilang, tagih saja sama Zuraida,,”
“Aaaaaaa,,,” Graceterpekik, tak menduga bila Aryanti akan meremas kedua payudaranya.

“GLEEKK,,, Uhhuuugg,,,” Chandra tersedak, kerongkongannya begitu sesak akibat segumpal roti yang dipaksa masuk tanpa dikunyah. Matanya dengan jelas bagaimana bentuk payudara Ziraida yang menyembul dibalik kaos akibat remasan jemari Aryanti.
“Hahahahaa,,, Ayo cint,,, ntar kamu diterkamnya lhoo,,” tawa Aryanti melihat tingkah suaminya. Lalu menarik Graceyang wajahnya memerah malu, keluar kamar.
“Aseeeemmm,,, besar juga nenen istri si Dako,” Chandra mengumpat, selama ini dirinya hanya bisa memandang tubuh yang dibalut pakaian yang lebar. Wajah lelaki itu tersenyum saat menyadari batangnya mengeras, ternyata begitu besar hasrat nya pada wanita yang selalu mengenakan jilbab itu. Tapi hingga saat ini tak ada sedikitpun kesempatan untuk SSI, selalu dikawal ketat oleh teman-temannya yang juga memliki hasrat yang sama.

Tak betah sendiri berada dikamar Chandra menuju selasar yang memisahkan kamar-kamar, sesaat matanya tertuju pada jam besar yang ada di dinding, pukul 9.15.
dipelataran cottage dirinya tak mendapati seorang pun, gara-gara ulah Aryanti dan Gracetadi pikiran sange nya kembali kambuh, otaknya memilah-milah betina mana yang dapat dijadikan mangsa, Aida, Lik Marni, Sintya,,, Ahhh Sintyaa,,, hampir saja lelaki itu menyumbangkan benih cinta kepada si montok istri simpanan Pak Hector.
Hari ini pikiran lagi ga karuan
Nyesel tapi sengaja nonton film begituan
Otak penuh khayalan juga bayang-bayang
Ingin cepat lepaskan, bingung cari saluran
Lalu cari solusi yang sehat dan alami
Bukan ngga punya uang, sumpah haram jajan
Biar sedikit bandel utamakan kesehatan
Belum sempat mikir panjang Setan langsung kasih jalan
“Heeiii Gaa!!,,,”
Terdengar panggilan saat dirinya melewati tepian kolam.
“Michael daaan,, Nikki,, Owwhh,,, itu benar Nikki kan?,” Chandra memicingkan mata seolah dengan cara itu matanya dapat lebih jelas melihat. Tampak gadis itu hanya mengenakan pakaian renang two piece.

Pintar juga ni bocah, sengaja mematikan lampu dipinggir kolam, jadi apapun yang mereka lakukan didalam air takkan terlihat jelas.
“Gilaaa,, bisa-bisanya berenang di air dingin gini,” celetuk Chandra setelah memasukkan kedua kakinya ke air, duduk menjutai.
“Dingin?,, panas koq,,, liat aja aku ampe keringatan begini,hehehe,,” Michael terkekeh sambil berjalan didalam air mendekati Chandra, meninggalkan Nikki disisi sebrang. “Baru pemanasan doang sih,, pengen nyobain bercinta dalam air,” imbuhnya.
“Gimana body bini ku, mantap?,,,lagi seger-segernya anak ABG tuh,, hehehe,, masih 19 my age,”
“Dasar,, Vicky oriented!!,,,”
“Hahahahaa,,,”
Blubuk blubuk blubuk,,,
Tawa keduanya terhenti saat Nikki tiba-tiba menyelam, 2 pasang mata lelaki sange itu melotot saat beberapa detik kemudian muncul pantat montok Nikki yang dibalut celana renang model thong, muncul kepermukaan bergerak mengikuti kaki yang berkecipak mendorong tubuh didalam air.

“Aku paling suka kalo dia lagi nungging, mana ada cowok yang tahan kalo bergesekan dengan pantat montok nya,,”
“Asseeemm,,,” Chandra misuh-misuh mendengar celoteh Adit yang sengaja manas-manasin
“Tapi lebih nikmat mana dengan vagina istriku?,,, bukankah kamu sudah merasakan jepitannya,, dan bagaimana gurihnya cairan cintanya?,,”
“Heehhh,,, jadi istrimu cerita kejadian ditepi tebing tadi?,, gilaa,,,”
Chandra terkekeh.
“Memang sih,, legit banget,,Tapi Cuma dua menit ni batang sempat masuk, belum sempat ngecrot aku sudah ditendang gara-gara Dako mau lewat,”
“Dua menit??? Wooyy,, itu lumayan lama begoo,,” Hati Chandra mendengus kesal, tapi berusaha tetap santai.
“Tapi bukankah istriku sudah memberi kesempatan padamu untuk menikmati tubuhnya, Ya artinya kamu sedang sial, jadi tidak salah bila sekarang adalah giliranku,” ucap Chandra, otak mesum nya bekerja dengan cepat melihat peluang. Dengan cepat tangannya melepaskan kaos lalu menceburkan diri ke air yang dingin.
“Still there Boy!!!,,, dan lihatlah bagaimana aku mengajarimu cara bercinta dengan gadis secantik istrimu ini,” teriak Chandra sambil berjalan mundur didalam air.

“Juancuuukk,,,” Adit mengumpat dengan jari tengah mengacung, hatinya tak karuan, saat harus melihat dengan matanya sendiri bagaimana istrinya akan digagahi oleh lelaki lain. Ingin sekali Adit mencengkram tubuh Chandra, tapi Chandra adalah calon bosnya setelah pamannya pindah kekantor pusat. Artinya Chandra lah saat ini yang memiliki kuasa dikantornya.
“Uuuugghhh,,,” Adit benar-benar kesal sekaligus menyesal telah memamerkan tubuh ranum istrinya.
Sementara disebrang, Nikki terlihat bingung saat sosok besar seorang laki-laki mendekati dirinya, tubuhnya beringsut masuk kedalam air berusaha menyembunyikan payudara yang hanya tertutup kain kecil dengan untaian tali.

Sempat terdengar oleh telinganya pujian sang lelaki yang memuji cantik wajahnya, tapi mengajari bercinta, apa maksudnya?…. Nikki tiba-tiba merasa tubuhnya panas dingin saat berhadapan dengan dada bidang sedikit berbulu saat Chandra tiba dihadapannya.
“Ada apa Mas?,,,?”
“Tidak ada apa-apa, hanya suamimu tadi meminta untuk menemani bidadari mungil sepertimu berenang,,” Chandra mencoba tersenyum seramah mungkin.
Sontak wajah Nikki memerah, tersipu malu.
Merasa tidak percaya dengan ucapan Chandra, gadis itu menatap suaminya yang terlihat hanya duduk ditepi kolam renang, meski saat ini ada seorang lelaki mendekati istrinya yang hampir telanjang.

“Kenapa cantik,,,tidak percaya?, pastinya suamimu akan menghajarku bila aku berbohong,” Chandra mengangkat dagu Nikki untuk memenadang wajahnya yang memiliki tatapan tajam. Dalam hati Chandra bersorang girang, gadis itu terlalu lugu, begitu mudah memikatnya.
Semakin gemetar tubuh Nikki dibuatnya. Tapi ada letupan birahi saat matanya menatap pundak Chandra yang tegap dan kokoh, apalagi lelaki itu memiliki wajah yang sangat menarik.
“Aku lihat tadi kau cukup mahir berenang, mau adu cepat dengan ku, berapa putaran kau sanggup?,,” kini Chandra memasang wajah jenaka. Tersenyum sambil mengambil kuda-kuda untuk menyelam.

“Jika hanya sekedar berenang mungkin tak mengapa, toh suamiku bisa melihat dan melindungi bila laki-laki ini berbuat nakal.” Gumam Nikki yang kemudian ikut tersenyum menampilkan deretan gigi yang rapi terawat. Seakan tidak ingin kalah dari Chandra, Nikki mencoba mendahului menyelam dan dengan cepat berenang ketepi dimana Adit berada.
Chandra tertawa melihat tingkah Nikki, mengangkat kedua tangannya kearah Adit. Tapi Hal itu diartikan Adit sebagai tanda ketidakmampuan Chandra menaklukan istrinya.
“Hahahahaaa,,, Kau tidak akan bisa menaklukkan istriku,, cobalah sepuasmu!!!,,,” teriak Adit sambil tertawa.
Nikki yang telah sampai ditepi kolam, sekuat tenaga kakinya menendang dinding kolam untuk memberikan dorongan tambahan. gadis itu tampak yakin jika dirinya menyelesaikan dua putaran dan lebih cepat dari Chandra.

Melihat Nikki sudah berbalik kearahnya, Chandra dengan cepat menyelam berusaha menyusul Nikki. Saat tubuh mereka berselisihan ditengah kolam, dengan begitu kreatif dan cekatan tangan Chandra mengelus payudara gadis mungil itu, dilanjutkan dengan tarikan hingga bra Nikki terlepas, lalu melanjutkan berenang ke arah Adit.
Sebelum berbalik menyusul Nikki, tangan Chandra muncul kepermukan sambil mengacungkan bra. Aksi Chandra itu jelas tidak luput dari mata Adit.
“Juancuuuukkk!!!,,,,” Adit hanya bisa mengummpat, bra siapa lagi yang ada ditangan Chandra jika bukan milik istrinya.
Sementara disebrang sana Nikki telah sampai ditepian, tak lama kemudian disusul Chandra yang tampak terengah-engah mencari udara.

“Menaaaang,,,” Nikki berteriak girang mengangkat kedua tangannya, meloncat-loncat seolah ingin keluar dari air. Tapi tawa gadis itu sirna seketika, wajahnya pucat pasi saat melihat bra nya berada digenggaman Chandra.
Secepat kilat tubuhnya beringsut masuk kedalam air, berusaha menyembunyikan payudara mungil dengan puting yang menantang kedepan. Gadis itu tidak sadar kapan bra itu terlepas, terlalu semangat berenang.
Chandra tersenyum, lalu dengan sopan memberikan bra itu kepada Nikki. Dengan cepat jemari lentik itu menyambar, dan dengan tergesa-gesa mengenakan kembali bra nya.
“Boleh aku bantu mengikat dibagian belakang?,”
Nikki mendesah, sesaat mengambil nafas panjang setelah sadar tidak mampu mengikat bra, menyesali keputusannya memilih bra jenis tali yang diikatkan dibelakang punggung.

Nikki berbalik dengan malu-malu, setidaknya dengan membelakangi lelaki itu tidak bisa melihat payudaranya yang menyembul.
Dengan perlahan Chandra memasang simpul tali bra, seraya mendekati telinga gadis itu.
“32b, mungil, tapi putingnya mancung banget, seharusnya untuk gadis seusia mu aerola nya sudah mulai coklat, tapi warna milikmu masih telihat sangat ranum seperti milik gadis SMP, bentuk seperti ini yang sering bikin para lelaki penasaran.”
Nafas Nikki seakan tertahan mendengar pujian Chandra, tubuhnya tak mampu bergerak saat telapak tangan yang kokoh menyusuri pinggang yang ramping, mengusap perut yang rata tanpa lemak, dan terus naik hingga telapak itu menggenggam payudara Nikki dengan dengan cengkraman yang kuat namun terasa lembut.

“Uuugghhhh,,,,eeeengghhhsss,,,” nafas Nikki terasa begitu sesak, bra basah yang baru dikenakannya seakan tidak memiliki arti. Putingnya yang seketika mengeras dapat dengan jelas merasakan tekstrur kasar dari telapak tangan Chandra.
“Maaasss,,, jaaangaaaaan,,,,”
Tapi Chandra memakai jurus budeg, dan terus melanjutkan aksinya. Tangannya begitu gemes dengan payudara mungil Nikki, meremas dan terus meremas dengan lembut.
“Ooowwwhh,,, ternyata benar dugaanku, payudaramu sangat kencang,,, apa kau meinginzinkan bila aku sedikit berkenalan dengan payudaramu ini,,”
“kaauu,, sudah melakukannyaaa,, apa lagiii,, suddaaahh masss,,, Aaaawwwhsss,,,” Nikki terpekik saat puting mungilnya dijepit, ditarik, dan dipelintir dengan lembut.

“Maasss,,, jangan yang ituuu,, jaaaang,,, Aaaaakkkhhh,,,” tubuh Nikki semakin berkelojotan, tanpa disadarinya telunjuk tangan kanan Chandra berhasil menyelinap kedalam lipatan vagina. “uuugghhh,,, suuddaaaahhh maasss,, ada Mas Adiiitt,, jangaaaaann,”
Sekuat tenaga Nikki menarik lengan Chandra agar keluar dari celana dalamnya, tapi Chandra yang usil tak kalah akal, telunjuknya yang berhasil menyelinap kedalam vagina mungil itu berubah layaknya jangkar pengait. Semakin kuat Nikki manrik tangan Chandra, semakin kuat tekanan yang dialami vaginanya, dan semakin kuat pula lenguhan yang keluar dari bibirnya.

“Jangaaannn,, jangaaaann,, Diniii ga maauu,, jangaaaaaaaaaaaaaaann” tubuh Nikki bergetar hebat. Mendapatkan pelecehan dihadapan suaminya justru menjai sensasi tersendiri, dan ini adalah orgasme tercepat yang pernah dialaminya.
“Iiiihhh,,, tanganku dikencingin cewek cantik,, pasti pertanda sesuatu nih,, koq cepet banget ya,,,” ucapa Chandra, menarik tangannya keluar lalu berlagak seperti orang yang mencuci tangan didalam air.
“Jahaaaat,,, dasar manager mesum,” Nikki mencubit lengan Chandra, wajahnya tersipu malu, cowok itu sudah membuatnya ngos-ngosan dan berkelojotan ditengah malam, tapi setelahnya justru meledeknya, menganggap hal itu seperti hal biasa.

Sementara disebrang Adit yang mengamati mengamati dengan tegang, dapat sedikit bernafas lega saat Chandra melepaskan tubuh istrinya, lalu sedikit menjauh.
Matanya dapat melihat bagaimana tadi tangan Chandra yang memeluk istrinya dari belakang, tapi dirinya tidak tau apa yang tengah terjadi, matanya juga mengawasi pinggul Chandra yang tidak bergerak, berarti calon atasannya itu tidak berhasil melakukan penetrasi.
“Wooyyy,, Aku ambil minum sebentar, still there, jangan kemana-mana,,,” Teriak Adit yang langsung bergegas masuk kedalam, tubuhnya sangat enggan beranjak dari tempat itu untuk memastikan istrinya baik-baik saja, tapi tenggorokannya terasa kering akibat ulah Chandra yang mengerjai istrinya.

“Yooiii,, jangan lama-lama, ntar istrimu ku makan lhoo,,hahaha,,” balas Chandra sambil tertawa.
Chandra bersandar ditepian kolam, “Malam yang indah, bintangnya banyak, lampionnya jua cantik” ucap Chandra sambil mengamati lampion yang berjejer diatas kolam, terikat pada tali yang direntang.
“Iyaa,”
“Iyaa? Bagaimana kau bisa tau, dari tadi kau hanya menunduk, mana bisa melihat bintang,”
“Iiihhh,, resee,,” Nikki mendorong pinggang Chandra tapi meleset dan mengenai batang Chandra yang masih menegang. Tiba-tiba gadis itu terkesiap.
“Itu kayu ya? Koq keras banget, piting sedikit aja pasti patah tuh kayu,, hahaha,,”
“Idiiihh,,, baru ditinggal suami sebentar aja genit nya nongol, giliran suami disamping anteng kaya kelinci makan kwaci,hihihi,,,”

“Mas emang rese yaaa,, jadi heran, koq bisa ditunjuk ngegantiin Pak Hector,”
“Hahahaha,,, Ehhh,, ada bintang jatuh,,”
“Mana? ngga ada koq,,,” mata Nikki cepat menyapu hamparan langit.
“Jatuhnya naik angkot biar cepet,,hahaha,,”
“Idiihh garing banget, emang kalo ada bintang jatuh mau minta apa?” tanya Nikki sambil memainkan air hingga menciptakan gelombang-gelombang kecil. Perasaan tegang dan malunya sedikit berkurang, diam-diam matanya melirik tubuh tinggi tegap disampingnya.
“Aku mau mintaaa,, eemmm,,, apa ya,, kalo minta kayu ku dipiting pake punyamu, mungkin ga yaa?,,”

“Weekksss,, ngelunjak, emang aku cewek apaan, ingat,, tadi itu Cuma karena aku menghormati mas Adit yang menyuruh mu menemaniku berenang lhoo,”
“Masa sih, jadi bukan jinak-jinak merpati,”
“Apaan sihh,, lagian batang segede gini mana ada yang mau, Cuma bisa bikin cewek nangis kesakitan, hahahaa,,”
“Awww,,, sakit tau,” Chandra menjerit ketika tiba-tiba tangan Nikki benar-benar memiting batangnya yang dalam kondisi siap tempur sempurna, dan sialnya gadis itu justru tertawa melihat deritanya.
Tanpa setau Chandra, dibalik tawa Nikki, jantung gadis itu justru berdebar, tidak menyangka batang yang tadi sempat digenggamnya meliki ukuran yang benar-benar besar.
“Woooyyy,,, ni ku bawain air, kalo mo minum cepet kesini,” terdengar teriakan Adit yang membawa tiga botol pulpy orange.

“Terimakasih Gan, tapi air disini masih banyak, apalagi ada sumurnya, dijamin ga bakal habis,” jawab Chandra serampangan.
“Sumur?,, mana ada?” tanya Nikki yang bingung.
“Ada koq, biar kecil tapi juga bisa nambahin air kan?”
“Iiihhh ngaco,,” Nikki segera memalingkan tubuhnya membelakangi Chandra saat menyadari mata Chandra yang melototi selangkangannya yang terendam.
“Tuu kan, jinak-jinak merpati, kalo ada suami langsung balik kanan nyari aman,”
“ngga Koq,,” jawab Nikki sambil melengos.
“Berani nerima tantangan?,,buktikan dengan ambil tu lampion ”
Tubuh Nikki kembali berbalik, “mana bisa?,,tinggi banget,, lagian itu tidak menantang”
Bukannya menjawab Chandra justru menyelam kedalam air.

“Aaaaaaa,,,, Nikki menjerit ketika tubuhnya terangkat dari dalam air, dan gilanya wajah Chandra tepat berada didepan selangkangannya.
“Sialan kau Chandraaa,, Kupastikan Aryanti akan menerima balasannya,,” dengus Adit, tekadnya semakin bulat untuk kembali menunggangi tubuh montok Aryanti dan menuntaskan permainan yang tertunda.
“Cepet ambil, tubuhmu ternyata berat juga,,”
Jelas Chandra berbohong, tangannya yang menopang tubuh Nikki justru meremas-remas pantat Nikki, membuat gadis itu salah tingkah dihadapan Adit.
Tangannya berusaha meraih lampion yang masih dua jengkal diatasnya. Berharap Chandra segera menurunkan tubuhnya.
“Aaaahhssss,, Chandraaaa,, kamu ngapaaaaiinnn,, Aggghhhh,,,” Nikki terkaget, celana dalamnya dibentot Chandra kesamping, dan dengan cepat bibir Chandra yang telah siaga menyerang bibir bawahnya.
“Aaaggghhh,,, gila kau Gaaa,,, itu ada suamikuuu,,Ooowwwhhh,, stoop,”

Chandra mendongakkan wajahnya yang tepat berhadapan dengan vagina ranum yang menganga, “Ternyata benar, kau memang jinak-jinak merpati,” ledek Chandra. Lalu kembali menyelipkan lidahnya ke vagina yang tengah galau.
“Ooowwwwhh,, tidaaak kau saaalaaahh,,aku berani koq nakal didepaaan Adiiitt,, Aaahhh,,,
masuuukiiiinn lidaaahhhmuu lebbiiihhh dalaaaammm,, Aaggghhh gilaaaaa,,,”
Nikki kembali mencoba meraih-raih lampion, berharap suaminya tidak tau dengan apa yang tengah terjadi antara dirinya dan Chandra.
“Ooowwwhhhssss,, Aaaahhh,,, dasar lidah buayaaaa,, panjang banget lidaaahh masuuukkk,” Pantat Nikki bergerak-gerak, bukan untuk mengelak, tapi untuk memudahkan lidah Chandra mencecapi kalenjer vaginanya yang semakin deras keluar.

“Sayaaaaang,,, apa kau tidak melihaaat,, vagina istrimuuu,, Aaahhh,,,”
“Vaginaaa istrimuuu dinikmati lelaki laaaiiinn,,, Uuuuggghhh,,, Aaahhhssss,,,”
Seeerrr,,, seeerrr,,, seeerrr,,,
Tubuh Nikki mengejang, bibir vaginanya menyemburkan cairan yang tepat memasuki mulut Chandra yang tengah terjulur menjilat-jilat.
“Aaaahhhhh,,, Gaaaa,,,, gila kamuuu,,”
Chandra perlahan menurunkan tubuh mungil Nikki, menggendong menahan dengkulnya dengan kedua tangan, kini wajah mereka berhadap-hadapan. Mata bulat Nikki dapat melihat dengan jelas wajah Chandra yang basah oleh cairan vaginanya.
“Ternyata hanya sebatas itu kenakalanmu,, baru sebentar udah keluar,,hehehee,,”

“Asseeemm,, apa tadi kurang nakal,, Ok, kalo masih kurang, tapi jangan salahkan aku jika Adit menghajarmu,”
Tangan Nikki terulur kedalam air, menyelusup kedalam celana pantai Chandra, meski gemetar dengan pasti tangannya menarik keluar batang yang sedari tadi sudah dalam kondisi siap tempur.
“Aku yakin,,, kau pun tidak akan bertahan lama jika kayumu ini dipiting oleh milikku,,, Aaaahhhh,,,” meski tidak yakin vagina mungilnya dapat menerima besarnya batang Chandra, tapi Nikki tidak ingin terus diledek dan diremehkan.
Kedua insan yang tengah diamuk birahi itu kini begitu kompak bekerjasama. Chandra perlahan menurunkan tubuh Nikki, sementara jemari lentik gadis itu memastikan batang Chandra berada pada jalur yang benar menuju vaginanya.
“Aaaggghhhh,,, pelaaann,,, coba lagiii,,, turunkaan lagiii,, Aaahhh,,,”
Batang Chandra melengos kedepan dan kebelakang, tak mampu menembus vagina mungil dan sempit milik istri temannya.

“Oooowwwhhh,,, taaahhhaaann,,, biar aku yang bergeraaakk,, aaaaggghhhh,,, massssuuuk,,”
Nikki yang merasakan kepala penis Chandra telah berada didalam vaginanya, perlahan semakin menurunkan tubuhnya, hingga lorong kemaluannya benar-benar terasa penuh.
“Maassss,, maaf maaasss,,, aku benar-benar telah memasukkan penis temanmu kedalam tubuhku,” rintih hati Nikki, yang masih tidak percaya tubuhnya dinikmati lelaki lain tepat didepan suaminya.
“Chandraa,, Apaaakaaahh ini cukuuup untuk membuktikaaan kalo aku naakaaal,,”
“belum, ini belum cukup, cantik.”
“Yaaa,, aku rasa jugaa begituuu,,, ini belum cukuuup,, setidaknya hingga vagina mungilku dapat memaksa spermamu memenuhi rahimkuuu,, Aaagghhh,,,”
Disebrang kolam, mata Adit melotot saat mendapati celana dalam istrinya telah mengambang diatas air. “Siaaalaan kau Chandraaa,”

“Arrgaaaa,,, kauuu diaaam sajaaa,,,bukankah kau ingiiin aku terlihaaat nakaaall didepaaan suamikuuu,,, Aahh,,aahhh,,,aahh,,,”
Nikki meminta Chandra berhenti bergoyang, gadis itulah kini yang memegang kendali, pantatnya bergerak cepat, turun naik diatas air menciptakan riak yang semakin besar.
“Gaaa,,, sesaaaak bangeeeett,,, aku gaa kuaaaat,,, aku kalaaaahh lagiii Aaahhhh,,,”
“Bila kau memang ingin terlihat nakaaal, biarkan aku menyetubuhi mu didepan Adit,,, beraniii?,,, Eeeehhhsss,,”
Nikki yang sudah benar-benar tak berdaya hanya dapat mengangguk. Meski tak tau apa yang akan dilakukan Chandra, tapi baginya sama saja,”
Nikki memejamkan matanya, pantat montoknya terus bergoyang menikmati batang yang begitu besar bagi vagina mungilnya. Sementara Chandra perlahan berjalan mendekati Adit yang dasar kolamnya lebih dangkal.

Nafas Adit tercekat, kini dihadapannya terpapar pemandangan yang begitu ironis, dengan mata terpejam tubuh mungil Nikki bergerak liar. Lorong kemaluan mungil dan sempit milik istrinya yang selalu dibanggakannya, memaksakan melumat sebuah batang besar, lebih besar dari miliknya.
“Aaaaghhhh,,,, Chandraaaa,,,,” Nikki terpekik saat Chandra mulai memberikan perlawanan, ini jauh lebih nikmat dari apapun, mata sendu yang menyiratkan kepasrahan menatap Chandra dengan mesra, namun sesaat kemudia terkaget saat mendapati tubuhnya tepat berada diantara kedua kaki suaminya yang menjuntai.
“Maaasss,,, maaaf maasss,,, ini hanya sebuah permainan tantangaaaaannn,,,”
“Aaaagghhhh,,,,ooowwwwwhhh,,, ga kuaaaat,,, Nikki ga kuat Masss,,” tangan Nikki terulur meraih tangan suaminya seiring tubuhnya yang bergetar hebat mendapat gempuran batang Chandra yang semakin brutal. Vaginanya semakin sempit menjepit, “Aaaaaaggghhhhhh,,, Massss,,, besaaaar maaassss,,, batang temaan mu sangaaaat besaaaaarrr,,, Aaaahhh,,,”

“Aaaaaggghhhh,,, Diiittt,,, sempit bangeeet,, milik istrimu sempiiitt bangeeeeettt,,,”
“Akkuuuu harusss menyemprot didaaalaaam Dit,,, Semproooottt didaaalaaam vaginaa istrimuuu,,, Aaahhhhh,,,” Chandra mencengkram pinggul Nikki dengan kuat, menancapkan batangnya jauh kedalam lorong yang semakin menyempit. bermili-mili sperma menghambur, berdesakan memenuhi kantong rahim Nikki.
Nikki seakan tidak percaya melihat kehebohan Chandra, lelaki itu oragsme didalam tubuhnya dengan begitu dahsyat. Tanpa sepengetahuan Adit, Nikki berusaha semakin mengencangkan otot vaginanya, meyakinkan Chandra dapat benar-benar menikmati liang kemaluannya.
“Maafin Nikki Mas,,”

Chandra memeluk Nikki dalam posisi penisnya masih didalam vaginanya yang basah dengan sperma yang telah dia semprotkan didalam vagina istri temannya itu. Adit yang melihat istrinya dipeluk oleh orang lain hanya bisa terpelongo dengan wajah yang bengong dan menelan ludah.

-SELESAI-

Baca Juga cerita seks lainnya hanya di Cerita69.co UPDATE SETIAP HARI. Baca juga Cerita Nakal lainnya hanya di Cerita69.coKumpulan Cerita Dewasa & Cerita Nakal Terupdate 2017.

 

One thought on “Liburan Berujung Ngentot Bergantian Pasangan Bagian 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


HOKI LIGA
error: Baca Aja Sayang Jangan Di Copy :* :*