KepoQQ
WEDEQQ
IDOLAQQ
KOKIQQ
HOKI 365
JASAQQ
BOLA 168
DOMINO 168
TAHUNQQ
COBAQQ
ARENA99
Cerita Dewasa Nakal Bersambung

Siswi Magang Yang Pintar Merangsang Dan Jago Dalam Permainan Seks

Kumpulan Cerita Dewasa & Cerita Nakal Terupdate 2017Cerita Nakal sebelumnya yang telah sempat kita baca ialah yang berjudul Obsesi Terhadap BH Dan Celana Dalam Wanita Untuk Bahan Onani, dan kali ini situs Cerita69.co akan membagikan kisah nakal penuh nikmat birahi yang tidak kalah menariknya dari cerita yang sebelumnya tentu saja yang berjudul Siswi Magang Yang Pintar Merangsang Dan Jago Dalam Permainan Seks,.. pasti udah penasaran kan?… dari judul nya kan udah bisa ketebak sedikit hehehe… ya uda kalo udah penasaran makanya siapin dulu tissue basahnya biar admin bisa langsung mulai aja.. ya uda udah disiapin kan?.. tanpa perlu berlama-lama lagi mari kita sambit hihihi… (sambut kali.. malah sambit… wkwkwkwk) udah ketawa atau senyum2 nya.. yuk serius masuk cerita dulu.. let’s go.. (admin sok sangar.. hahaha.. bercanda kok.. ok?..).

Baca Juga : Kesenangan Dalam Bermain Bersama Situs BandarQ

Dulu aku sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang otomotif di daerah Bekasi. Ditempat itu, sebut saja PT. BT, jumlah karyawannya cukup banyak. Tapi bukan itu yang menyebabkan aku menurunkan tulisan ini.

Selain karyawan, disana terdapat beberapa siswi yang sedang melakukan PKL. Diantara siswi tersebut, salah satu diantaranya, telah membuat aku seperti kembali merasakan cinta (yang dulu pernah hilang bersama Galuh).

Siswi tersebut, kita sebut saja namanya Mutiya, diperbantukan di departemen Personalia, sedangkan aku, bekerja di departemen PPIC. Sebenernya ruang kerja kami agak berjauhan, tetapi karena sama-sama mengerjakan jenis pekerjaan yang menyangkut dengan data, maka setiap hari, kami selalu bertemu ditempat foto copy.

Awalnya sih, aku hanya sekedar mengagumi kecantikannya, karena dengan hidung yang bangir, bentuk bibir yang sensual, dihiasi lesung pipit di kedua pipinya, membuat semua yang ada pada dirinya terlihat sempurna. Hari demi hari kami terlihat semakin akrab, bahkan banyak teman-temanku yang menyangka kalau aku sedang PDKT dengannya.

Semua anggapan temanku, tidak terlalu aku pikirkan, karena aku merasa, Mutiya disini sedang belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolahnya, dan sebagai seorang karyawan di PT. BT, aku hanya sekedar membimbing dan membantu, jika seandainya ada sesuatu hal yang dia belum mengerti. Hampir dua minggu aku mengenalnya, ternyata sikap dan kelakuannya semakin membuat aku terpesona.

Ketika aku mendengar gurauan salah seorang temanku, yang mengatakan kalau dia berani memberi Rp. 500.000,- kepada Mutiya, jika Mutiya mau menemaninya selama 2 jam, perasaanku malah semakin care sama si Mutiya ini. Timbul perasaaan cemburu ketika mendengar gurauan itu. Namun aku tidak berani untuk mengungkapkannya, karena saat itu diantara aku dan Mutiya, tidak mempunyai hubungan yang terlalu istimewa.

Aku pun merasa wajar, jika temanku berkata demikian, karena dengan wajah secantik itu, jika memang Mutiya memanfaatkan tubuhnya, mungkin harganya bisa diatas Rp. 350.000, per jam (harga tersebut diatas, adalah harga rata-rata seorang massage girl yang sudah dianggap cantik).

Suatu ketika, bersama seorang temannya yang bernama Emma, Mutiya menuju meja kerjaku, awalnya sih bertanya tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan keperluannya, mungkin karena merasa sudah akrab, Mutiya juga bertanya tentang nomor HP ku, alasannya sih biar gampang saja, kalau nanti dia mau nanya sesuatu. Sambil tetap memperhatikan monitor, aku menyebutkan satu persatu nomernya.

Ketika mereka ikut memperhatikan cara kerjaku, tiba-tiba, “brrruuaaakkk..” tanpa sengaja, tangan Emma menyenggol buku yang aku seperti biasanya tarok disisi meja. Aku langsung mengambil bukunya dengan cara berjongkok. Alamak.. ketika berjongkok, tanpa sengaja sudut mataku melihat sesuatu yang sangat indah, dua pasang paha mulus terpampang didepan wajahku.

Bukan hanya itu, karena posisi kaki Mutiya ketika duduk, agak mengangkang, maka ketika ku perhatikan, dipangkal pahanya terlihat pemandangan yang cukup menggelitik kelelakianku. Ku lihat dia memakai CD berwarna Pink, dengan hiasan renda di sisinya. Mungkin karena mereka terlalu fokus memperhatikan hasil pekerjaanku, mereka tidak menyadari (atau memang sengaja?..) kalau di bawah meja, aku sedang menikmati apa yang seharusnya mereka tutupi.

Karena takut mengundang kecurigaan dari teman sekerjaku, terpaksa aku kembali duduk dan menerangkan tentang cara kerja di PT. BT kepada Mutiya dan Emma. Namun kejadian yang baru saja aku alami, tetap mengganggu pikiranku. Mungkin karena aku tidak konsentrasi dengan apa yang sedang kami bicarakan, Mutiya bertanya.

“Pak, kok kadang-kadang ngejelasinnya tidak nyambung sih..”. Sebenarnya aku malu mendapat pernyataan seperti itu, namun karena merasa sudah akrab, aku berbisik kepada Mutiya dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Bukannya malu, Mutiya malah tersenyum mendengarnya.

“Kenapa tidak disentuh saja Pak, biar tidak penasaran”, goda Muti. Emma yang tidak tahu apa-apa, hanya bengong mendengar pembicaraan kami. Sebagai seorang lelaki, mendengar penawaran Mutiya, aku malah berpikir yang tidak-tidak, dan membayangkan apa yang ada dibalik CD nya itu.

Namun semuanya berusaha aku redam, karena walau bagaimana pun, di PT. BT ini, aku harus JAIM (Jaga Imej), agar aku tidak mendapatkan masalah. Bel istirahat pun berbunyi, dan kami langsung menuju kantin untuk makan siang.

Baru saja aku selesai makan, Mutiya mendekatiku dan berbisik “besok Bapak saya tunggu di Hero sekitar jam 09.00 pagi, ada yang ingin saya bicarakan, saya tunggu didepan ATM”. Walau singkat, tapi tetap membuatku bertanya-tanya, sebenarnya apa yang ingin dibicarakan? Mengapa waktunya hari sabtu, padahal kan setiap hari sabtu PT. BT libur. (hmmm… jadi curiga ini bawaannya ya kan?..)

Mengapa dia berbisik sangat pelan kepadaku, apa takut terdengar yang lainnya?. Besoknya, dengan tetap berpakaian rapi (seperti jika mau berangkat kerja), aku mengeluarkan motorku dan beralasan lembur kepada kedua orang tuaku.

Menunggu adalah hal yang sangat membosankan, karena sampai di Hero, jam baru menunjukkan angka 07.30, Setelah mencari sarapan, sambil ngerokok, aku iseng-iseng ikut ngantri ATM, padahal cuma mau liat saldo doang, karena uang yang ada di dompetku, masih ada sekitar Rp. 400.000,-. Dari jauh, aku sudah tahu kalau gadis yang menuju kearahku adalah si Mutiya, dan pagi ini, dia terlihat sangat sexy, karena Mutiya hanya mengenakan kaos dan celana jeans ketat.

“Udah lama ya Pak?.. Kan Mutiya janjinya jam 09.00, sekarang baru jam 08.45, Muti tidak salah khan?..”, “Jangan panggil aku Bapak dech Mut, aku kan belum nikah, dan ini bukan di kantor, panggil namaku saja dech, biar bisa lebih akrab”.

“Ok deh Pak, eh Fik”, sambil tersenyum Mutiya langsung menggandeng tanganku.
“Fik, enaknya kita ke mana yach”, tanya Mutiya.
“Terserah, emang mau ngomongin apaan, kayaknya pribadi banget”. tanyaku ke Mutiya lagi.
“Ngga juga, Mutiya seneng saja kalau deket ama Fik, kenapa ya?” “Mau tahu jawabannya”, canda Mutiya.
“Ngga usah Mut, aku juga udah tahu, Mutiya rasa aku menyukai Mutiya kan?..”, balasku polos.

Tanpa disadari, mungkin karena sangking senengnya, aku yang sejak awal memang mengagumi Mutiya, langsung memeluknya. Mendapat perlakuan begitu, Mutiya mencoba melepaskannya, dan mengingatkan, kalau kita masih ada dilokasi umum, tidak enak terlihat banyak orang.

Akhirnya kami memutuskan mencari tempat yang cocok untuk berduaan. Tapi karena yang aku tahu cuma hotel tempat satu-satunya yang cocok untuk berduaan tanpa takut terlihat orang lain, walau terlihat agak ragu, Mutiya akhirnya menyanggupinya.

Sekitar jam 09.30, kami sudah sampai di front office hotel BI, dan mengambil sebuah kamar dengan fasilitas TV dan AC. Dengan agak ragu Mutiya memasuki pintu kamar (mungkin karena baru pertama kalinya), dan dia agak terkejut melihat fasilitas yang terdapat di dalamnya. Apalagi ketika dia melihat kamar mandinya.

“Enak juga ya Fik, kita bisa ngobrol berduaan disini, tanpa takut akan terdengar atau terlihat oleh orang lain”. Mutiya langsung merebahkan badannya ke ranjang, dan mencari siaran TV yang khusus menyiarkan acara musik. Kebetulan banget lagunya adalah lagu-lagu romantis, yang secara tidak langsung, ikut mempengaruhi suasana hati kami.

Lewat IPhone, aku memesan makanan dan soft drink. Ketika aku menyalakan rokok, terdengar suara room boy mengetuk pintu dan mengantarkan pesananku. Aku mendekati Mutiya yang sedang rebahan, maksudnya sih mau nawarin makanan, tapi Mutiya langsung bangun dan bertanya.

“Fik, apakah Mutiya salah bila Mutiya mencintai Fik, Mutiya sebenernya malu mengakuinya, tapi bila tidak diungkapkan, Mutiya takut kalau Fik tidak mengetahui apa sebenernya yang Mutiya harapkan. Maafin Mutiya yach, Mutiya udah ngerepotin Fik, padahal kan sekarang waktunya libur dan istirahat, tapi Mutiya malah meminta Fik menemui Mutiya”.

Aku terharu juga mendengar kejujuran dan kepolosannya, akhirnya setelah mendengarkan semua tentang apa yang ada dihatinya, sambil membelai rambutnya (agar perasaannya menjadi lebih tenang), aku pun berusaha meyakinkannya, bahwa semua yang dialami, adalah wajar, jika seseorang mencintai lawan jenisnya, dan tidak ada yang namanya salah, jika sudah menyangkut perasaan hati.

Ketika dia menatapku dengan tatapan yang tajam, secara perlahan aku mencium keningnya. Tapi ternyata, yang kulakukan itu malah membuat Mutiya berani untuk membalas ciumanku. Dia langsung melumat bibirku, dan seperti seseorang yang tidak mau kehilangan sesuatu, dia memelukku dengan erat sekali. Sambil terus menikmati bibirku, tangannya terus mengelus dan mengusap seluruh bagian tubuhku.

Mungkin beginilah cara dia mengungkapkan rasa sayangnya terhadap diriku. Tapi sekarang aku yang bingung, karena dengan melihatnya bentuk tubuhnya saja (waktu di kantor), bisa membuat aku “kontak”, sekarang seluruh tubuhnya sudah melekat erat ditubuhku (walau masih memakai pakaian lengkap).

Kedua payudaranya terasa makin mengeras, akhirnya kuputuskan untuk menikmati keadaan ini, karena jujur saja, kadang-kadang, dulu aku pun sering menghayalkan betapa nikmatnya jika bercumbu dengan si Mutiya, apalagi jika berjalan di belakangnya, goyangan pantatnya ngajakin kita jual tanah (maksudnya ntar duitnya buat ngebayarin pantatnya, he.. he.. he..).

tanganku mulai berusaha membuka kaosnya, karena aku tidak mau pandanganku yang tertuju kepada kedua payudaranya, terhalang oleh kaos yang ia kenakan. Pelan namun pasti, akhirnya bukan hanya kaosnya yang berhasil aku buka, BH nya pun sudah aku lepaskan.

Sejenak aku terpana melihat keindahan bentuk payudaranya itu, namun hanya sebentar, karena aku ingin segera menikmati dan merasakan keindahan itu, kuremas kedua susunya, dengan mesra aku mulai menghisap putingnya yang sudah agak mengeras dan berwarna kecoklatan. Kucium dan kujilati bagian tubuhnya, mulai dari leher, terus bergerak turun dan menuju putingnya kembali.

“Yaa.. hisap terus sayaangg.. aacchh.. ennaakk banget Fik.. geli.. tapi nikkk..maaattt.. teeeruuus.. aaccchhh..” Mutiya terus meracau menikmatinya. Aku terus merangsangnya, dan mencoba membuka celana jeans yang dipakainya, lantaran jeans yang dikenakannya sangat ketat, aku kesulitan untuk membukanya, untungnya Mutiya mengerti, dengan agak mengangkat pantatnya, dia mulai mencoba menurunkan jeansnya sendiri. Dengan sabar, aku menunggu dan terus mempermainkan susunya.

Setelah jeansnya terlepas, tangan Mutiya berusaha untuk membuka semua yang aku kenakan. Satu persatu jari tangannya membuka kancing kemejaku, dan setelah berhasil membuka baju dan celana yang aku pakai, Muti hanya menyisakan CD saja yang masih melekat ditubuhku.

Mungkin dia masih ragu untuk membukanya, karena dia pun masih mengenakan CD. Walau diwajahnya terlihat, kalau dia sedang diamuk birahi, namun dia masih bisa menguasai pikirannya, aku yakin dia merasa takut di cap sebagai cewe yang agresif dan takut jika aku tidak menyukai tindakannya. Namun aku tetap menikmati suasana yang terjadi di dalam kamar hotel ini.

Aku terus merangsang birahinya, ciumanku aku arahkan kedaerah perutnya, terus kebawah menyusuri lubang pusarnya, dan kedua tanganku, bergerak untuk membuka CD yang masih melekat ditubuhnya. Secara perlahan aku mencoba membuka CD nya, sambil terus mencumbunya, aku menciumi setiap daerah yang baru telihat ketika CD nya mulai bergerak turun.

Mutiya sangat menikmati semua sentuhan yang aku berikan, bahkan ketika CD nya telah terlepas, dan aku mulai menjilati memeknya, dia terus mendesah dan malah membuka pahanya lebar-lebar agar lidahku bisa menjilati bagian dalam memeknya. Dengan keharuman yang khas, memek itu telah membuat aku betah berlama-lama mencumbuinya.

Aku terus menjilati, dan dengan jari telunjukku, aku coba merangsang dia dengan memainkan kelentitnya. Semakin aku percepat memainkan jari telunjukku, semakin cepat pula dia menggoyangkan pantatnya. Mutiya terus mendesah dan meracau tak karuan.

“Aacchhhh.. terus sayang.. nikmatnya.. teruzzsss.. lebih ke dalam lagi Fik.. teruuzzss.. yacchhh.. benar.. jilati terus yang.. itu.. sayang.. accchhh”. Karena rangsangan yang dia terima makin hebat, pantatnya bukan hanya digoyang-goyangkan, tapi malah diangkat-angkat ke atas, mungkin tujuannya agar lubang memeknya yang lebih dalam ikut tersentuh oleh lidahku.

Dengan bantuan jari-jariku, aku terus mengaduk-aduk isi memek Muti, aku sentuh G-Spotnya secara perlahan, dia langsung menggelinjang, lalu kuelus G-Spotnya nya dengan jari tengahku, Mutiya makin liar, seperti orang yang sedang ngigau, dia meracau tak karuan, tak jelas suara apa yang keluar dari mulutnya, karena yang aku tahu, lubang memeknya sudah sangat basah oleh cairan kemaluannya, seluruh tubuhnya seperti menegang, tapi itu tak berlangsung lama, karena, dirinya langsung terdiam dan tergolek dengan lemas.

Melihat Mutiya sudah mencapai orgasme, aku berusaha untuk tenang, tetapi kontolku sudah sangat tegang (walau masih tertutup oleh CD) dan ingin segera merasakan nikmatnya memek Mutiya. Aku segera mencium dan menjilati “lubang surga” itu, agar Muti bisa merasakan apa yang namanya multi orgasme.

Usahaku ternyata berhasil, karena hanya dalam beberapa menit, tubuhnya kembali bergetar dan menegang. Diiringi desahannya yang sangat menggairahkan, Mutiya kembali merasakan kenikmatan itu. Karena beberapa kali mengalami orgasme, Mutiya terlihat sangat lelah, meski tak dikemukakan, terlihat jelas bahwa dia sangat puas dengan oral yang aku lakukan.

Dengan tersenyum, dia mencoba untuk melepaskan CD yang masih melekat ditubuhku. Tanpa ragu, dia mulai menjilat dan mengulum kontolku. Mendapat perlakuan seperti itu, aku yang semula mendominasi permainan, hanya diam saja menikmati permainan Mutiya.

Dengan bibir indahnya, dia mengulum dan mengeluar masukan kontolku ke dalam mulutnya, dan sesekali, dengan menggunakan kelembutan lidahnya, dia mengusap dan menjilat kepala kontolku. Gila.. ternyata Mutiya bukan hanya indah buat dilihat, ternyata Mutiya mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam merangsang dan memanjakan kita dalam permainan seksnya.

Aku berusaha agar tidak sampai kebobolan ketika dia melakukan oral terhadapku, namun kenyataannya, semua spermaku telah memenuhi mulutnya, ketika secara reflek, aku menjambak rambut dan menarik kepalanya sambil mendesah menahan kenikmatan saat spermaku akan keluar. Tanpa perasaan jijik, Mutiya menelan semua sperma yang ada di dalam mulutnya, seperti tidak puas, dia menjilati kontolku yang masih ada sisa-sisa spermanya.

“Fik, enak juga ya rasa sperma loe, gurih-gurih gimana gitu..”, kata Mutiya memuji. Aku hanya tertawa sebentar mendengarnya, karena bola mataku tetap memandang lekuk-lekuk tubuh Mutiya yang telanjang tanpa sehelai benang pun menutupinya. Kuperhatikan lagi “lembah” yang dihiasi oleh bulu-bulu halus itu, ternyata, warnanya agak memerah, mungkin karena tergesek oleh lidah dan jari-jariku.

“Makasih ya Mut..”, kataku sambil menciumi memeknya.
“Fik, boleh tidak kalau Mutiya minta memek Mutiya di jilatin lagi, abis enak banget sih..”, tanya Mutiya sambil memohon.

“Boleh saja sih, tapi boleh tidak kalau Fik ngentot Mutiya, soalnya kontol Fik udah tidak kuat nih, pengen buru-buru berada di dalam memek Mutiya. Boleh yach?” “Mutiya takut Fik, kata temen-temen Mutiya, kalau masih perawan rasanya sakit banget, tidak mau ah.. ntar kalau sakit gimana?”, tolak Mutiya.

“Pokoknya Mutiya rasain saja nanti,” kataku sambil mulai menjilati memek Mutiya. “Fik.. apa temen Mutiya yang salah”. tanya Mutiya kepadaku. “iya Mut.. temen Mutiya yang salah soalnya pasti enak..”. Dan dengan melebarkan pahanya, dan mempergunakan kedua tangannya, Mutiya membantu melebarkan memeknya agar mempermudahkan ku di dalam mencumbui memeknya.

Kujilati klitorisnya hingga dia menggelinjang tak karuan menahan rasa nikmat yang dia terima. Sengaja aku terus menjilati klitorisnya, agar dia diamuk oleh gairahnya sendiri, ketika kulihat tubuhnya mulai menegang, dan mengalami orgasme, entah untuk yang keberapa kali, aku langsung memindahkan cumbuanku kedaerah putingnya yang sudah sangat kencang. Kuciumi bagian bawah susunya, kusedot dan kumainkan lidahku di daerah tersebut.

“Fik.. enak sekali sayang.. acchhh.. ooohhhh..” Mutiya menggelepar menahan birahinya yang semakin besar. Kulihat jari lentik Mutiya mulai bermain dibibir kemaluannya sendiri, dia terus mengelus, dan sekali-sekali memasukan jarinya ke dalam lubang memeknya yang sudah sangat basah karena banyaknya cairan pelicin yang keluar dari dalam memeknya. Sambil tetap membenamkan wajahku diantara dua gunungnya, tanganku secara perlahan menarik tangan Mutiya yang sedang asik mengeluar masukan jarinya.

Awalnya dia menolak, tapi ketika aku bimbing jarinya kearah kontolku, Mutiya langsung menggenggam dan mengocoknya. Setelah agak lama, aku meminta Mutiya agar dia berada diatas tubuhku yang sudah dalam posisi berbaring.

Dengan perlahan, dia menaiki tubuhku. Sengaja aku menggesek-gesekan kontolku diantara lubang memeknya, ternyata benar, apa yang aku lakukan telah membuat kenikmatan yang dirasakan oleh Mutiya makin menjadi-jadi, dia pun mulai bergerak menggesekan kontolku ke bagian luar memeknya.

Akhirnya, walau dengan posisi berada di bawah, tanpa sepengetahuan Mutiya, aku berusaha mengarahkan kontolku agar bisa memasuki lubang memeknya. Mutiya terus menggerakkan dan menggesekan memeknya, dan tanpa disadarinya, ternyata kepala kontolku mulai bergerak memasuki memeknya ketika dia menggerakkan pantatnya dari atas ke bawah.

Terasa lembut sekali ketika kepala kontolku menyentuh bagian dalam dari lubang surganya, ada perasaan nikmat yang sulit untuk diungkapkan, dan tanpa terasa, sudah seluruh bagian kontolku berada di dalamnya. Seperti kesetanan, Mutiya terus menggoyangkan pantatnya, sesekali terdengar rintihan dan erangannya. Aku pun terus mengeluar masukan kontolku ke dalam lubang memeknya (walau agak sulit karena posisiku berada di bawah).

Secara reflek Mutiya langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuhku ketika dia sudah mencapai orgasmenya. Namun karena aku belum orgasme, aku langsung membalikkan badannya agar berada di bawah tubuhku. Dengan sedikit santai, aku terus menggerakkan “junior”ku,

namun karena tubuh Mutiya yang bersih dan terawat, birahiku tidak bisa mengerti jika aku ingin lebih lama menikmati kemulusan tubuhnya. Akhirnya spermaku keluar di dalam kehangatan lubang memeknya.

Setelah beberapa saat aku langsung berbaring disamping Mutiya dan langsung saja Mutiya memelukku dengan kepalanya diatas dadaku. “Fik sayang… Mutiya cinta dan sayang banget sama Fik.. Mutiya mau kita bisa bersama seperti ini terus.. Fik mau kan?..” tanya Mutiya kepadaku. “Iya Mutiya… Fik juga cinta sama Mutiya dan jujur saja perasaan sayang dan cinta itu ada sejak awal ketemu sama Mutiya kok dan sampai sekarang juga toh Fik masih dengan perasaan yang sama ke Mutiya..”

“Beneran Fik?.. Jadi sekarang kita udah resmi pacaran?..” tanya Mutiya kepadaku lagi. “Iya Mutiya… Lagian juga udah lama Fik pengen pacaran sama Mutiya tapi malah Mutiya yang nembak duluan.. kan malu Mut.. (maksudnya ungkapin perasaan duluan ke cowok lagi.. kan harusnya cowok yang gitu ke cewek ya gak?..)” jawabku lagi ke Mutiya.

“Iiihhhh.. gpp kok kan juga sekarang Fik udah tahu perasaan Mutiya itu gimana ke Fik.. ya kan jadi sekarang udah ketahuan kalo Fik juga sayang dan cinta sama Mutiya.. jadi Mutiya pengen kita bisa sama-sama terus..” katanya lagi langsung memelukku lebih erat lagi, seperti tak mau kehilangan aku.. hihihihi

Ya aku justru bahagia ternyata wanita yang selama ini aku perhatiin yang juga bisa dikatakan aku yang duluan punya perasaan cinta sama dia, tapi malah dia duluan yang ungkapin.. tapi ya uda lah kalo jodoh juga gak akan kemana malah aku berharap sih aku sama Mutiya bisa baik-baik terus.. ya mungkin juga sampai ke jenjang yang lebih serius (nikah maksudnya hehehehe)

Ya uda deh… sampai disini saja dulu kisahku yang akhirnya bisa bertemu wanita yang aku ceritain dan juga Alhamdulliahh sampai sekarang aku masih pacaran dan bahagia sama dia.. walau dia masih harus fokus nyelesaian PKL nya itu biar tamat dan gak musti ngulang-ngulang lagi.. doain ya guys biar Mutiya bisa lulus dan jangan lupa juga buat doain aku sama si Mutiya biar bisa cepat-cepat sukses ya bisa nikah deh hehehe…

OHH iya jangan lupa baca Cerita Nakal lainnya ya hanya di Cerita69.coKumpulan Cerita Dewasa & Cerita Nakal Terupdate 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


HOKI LIGA
error: Baca Aja Sayang Jangan Di Copy :* :*